Bab 6 - Hari Perpisahan di Akhir Musim Panas
Setelah
musim hujan usai, sekarang bulan Juli, aktivitas pembuatan cerita Ao dan Hiyuki
berlanjut.
Senyuman
malu-malu yang hanya ditunjukkan Hiyuki pada Ao di kafe sepulang sekolah akhir-akhir
ini sering terlihat di kelas.
“Ekspresi
Hinomiya-san berubah jadi sangat lembut.”
“Tidak
ada hawa dingin waktu aku bicara dengannya. Dia gampang sekali tersipu,
imutnya.”
“Caranya
menundukkan pandangan dan kepalanya juga imut, walaupun aku cewek, aku terpesona
olehnya.”
“Aku
tahu aku tahu, sama sepertiku.”
Ketika
para gadis mengajaknya makan siang bersama, Hiyuki menjawab dengan gembira:
“Te-terima
kasih.”
Dia
juga populer di kalangan para laki-laki.
“Hinomiya-san
itu dulunya terasa agak susah didekati, kayak seseorang dari dunia lain. Tapi sekarang,
rasanya seperti kamu juga dapat dijangkau.”
“Yeah,
dia enggak pernah terbuka dulu, aku juga enggak mau mempertimbangkan untuk menggodanya
dan menjadikannya pacarku. Tapi kalau Hinomiya-san yang sekarang bisa jadi pacarku,
aku akan mati bahagia.”
Ao
mendengarkan dengan perasaan campur aduk.
“Enggak
mungkin, Hinomiya-san sudah punya Ao. Dia menemani Hinomiya-san sepulang sekolah
terus tiap hari.”
“Sial,
seandainya aku bertindak seperti Ao sebelum ada saingan muncul.”
“Kerja
bagus, Ao.”
Ao
tidak bisa tersenyum sama sekali saat dia melihat tatapan-tatapan cemburu dari
teman-teman sekelasnya.
“Aku
enggak pacaran dengan Hinomiya-san.”
Dia
berkata dengan suara kalem. Teman-teman sekelasnya tidak bermaksud buruk ketika
mereka mengatakan ‘kerja bagus’, namun itu seperti menusuk Ao tepat di dada.
“…
Cewek-cewek di kelas bertanya padaku, apa aku pacaran dengan Kazetani-kun … Aku
harus … jawab apa?”
“Sama
seperti biasa. Bilang saja kalau kita sama-sama memiliki hobi yang sama, kita
tidak pacaran. Aku menjawab begitu.”
“…
Ya.”
Percakapan
yang kaku dan pahit terjadi minggu kemarin.
Apa
jawaban itu benar-benar tidak masalah?
Ao
sendiri tidak tahu. Hatinya terasa bimbang ketika dia melihat Hiyuki
menundukkan kepalanya.
Kembali
lagi ke bulan Mei ketika angin musim semi menggerakkan dedaunan hijau yang berkilauan,
mereka berjanji untuk menyelesaikan sebuah naskah, dan memulai proyek ini.
Hal
itu akan berakhir setelah memasuki bulan Juli.
—
Mohon bantuannya untuk dua bulan ke depan.
—
Aku juga, mohon bantuannya untuk dua bulan ke depan.
Hiyuki
membungkuk gelisah, dan Ao membalas dengan sebuah senyuman dan hati yang gugup.
Akhir-akhir ini, dia terus memikirkan percakapan mereka dulu.
…
Sebentar lagi adalah tenggat waktu yang kubuat dengan Hinomiya-san.
Ketika
mereka sudah mengumpulkan dua puluh cap kafe—Tiga hari sebelum tenggat waktu pengiriman
untuk kontes pendatang baru—tanggal 12 Juli, Hiyuki menyelesaikan naskahnya.
“…
Apa menurutmu akhir cerita ini bagus?”
Setelah
meletakkan naskah yang sudah selesai di depannya, Hiyuki menatap Ao dengan tatapan
khawatir.
Cerita
yang keseluruhannya terdiri dari kejadian-kejadian dalam kehidupan sehari-hari
itu berakhir dengan si tokoh utama Subaru kembali ke kehidupannya di dunia
modern, dan berpisah dengan Cyan.
Di
pantai di mana mereka berkencan untuk pertama kalinya, Subaru dikelilingi
cahaya rembulan dan berangsur-angsur menghilang. Cyan berlari secepat yang dia
bisa ke sisinya.
Subaru
tetap menyerukan ‘terima kasih’
kepada Cyan, keduanya mengungkapkan perasaan mereka kepada satu sama lain.
Dengan
ingatan yang menghangatkan hatinya itu, Cyan perlahan menghilang.
Ketika
mereka mulai menulis menulis cerita ini, sudah diputuskan kalau ini akan
menjadi akhir ceritanya.
Akhir
dari cerita kehidupan sehari-hari ini akan lebih cocok dengan perpisahan yang mengharukan.
Hiyuki juga mengerti bahwa semua hal baik harus menemui akhirnya, dan menyetujui
dengan ekspresi menerima.
Ao
juga setuju dengan akhir cerita itu.
Akan
tetapi, di versi awal cerita Hiyuki, Subaru menyadari bahwa dia akan segera
pergi, namun cerita tentang kehidupan sehari-harinya berlanjut.
Ao
menyarankan Hiyuki untuk mengikuti latar aslinya, menggambarkan adegan
perpisahan dengan baik, dan mengakhirinya di sana, jadi para pembaca tahu
persis bahwa cerita tersebut telah berakhir dan menciptkan akhir yang luar
biasa dengan sisa rasa yang baik. Maka setelah dua kali revisi, Subaru akhirnya
mengucapkan perpisahan pada Cyan di versi ketiga.
Ketika
Hiyuki menunjukkan revisi kedua pada Ao, dia bertanya dengan tatapan tak
percaya diri: Apa akhir cerita yang sebelumnya jauh lebih baik?
Ao
tersenyum, dan menjawab dengan hal yang sama seperti terakhir kali.
“Kupikir
ini sudah tepat, cerita ini harus berakhir dengan pantas dalam artian baik.”
“…
Tapi, dengan ini, semuanya akan berakhir.”
Hiyuki
memohon dengan suara pelan. Dia ingin menghindari akhir cerita itu.
Ao
berkata dengan lembut:
“Tidak apa-apa, biarkan saja begitu.”
“….”
Tatapan
kecewa di mata Hiyuki menganggu Ao, namun Ao lanjut berbicara dengan ekspresi kalem.
“Light
novel pada dasarnya adalah serangkaian karya. Dari naskah-naskah yang dikirim, banyak
orang yang akan mengirim naskah dengan alasan sekuelnya akan ditulis. Tapi kupikir
itu harus menunggu sampai memenangkan penghargaan dan siap untuk diterbitkan sebelum
mendiskusikannya dengan para editor untuk menentukan apa mereka harus mengakhirinya
pada satu volume. Bukannya akan jadi sangat bagus untuk karya itu kalau bisa
berakhir dengan baik?”
Di
antara light novel, sulit untuk mengakhiri seri-seri populer. Penulis-penulis
profesional perlu memikirkan kejadian-kejadian yang akan ditulis, melanjutkan
untuk membangkitkan minat para pembaca saat menulis cerita yang tidak ada habisnya.
Terkadang,
mereka harus memotong setengah ceritanya karena penjualannya kurang laku. Namun
para peserta kontes tidak terikat dengan situasi-situasi seperti ini. Semua
dapat dipecahkan pada satu volume, dan diberi akhir yang baik.
Itulah
kenapa Ao selalu merasa hal itu sangat disayangkan ketika dia membaca naskah
yang belum selesai.
Mungkin
saja itu berakhir dalam arti baik, namun misteri-misterinya masih belum
terungkap, foreshadowing-nya dibiarkan tidak tersentuh, tidak ada romansa yang
berkembang dan ceritanya tetap diteruskan.
‘Saya mohon bantuannya untuk sekuelnya juga.’
Ketika
Ao melihat kalimat terakhir, dia berharap dari lubuk hati terdalam kisah
semenarik itu dapat berakhir dengan satu volume.
‘XX Cerita Perang Bab Dua’
Saat
melihat judul seperti itu, Ao akan membaca kembali katalognya dan berpikir:
Bagaimana
dengan bab satu dan tiga?
Bila
departemen editorial lebih memerhatikan detail dan mengirim ketiga karyanya ke penyaring
yang sama, mungkin akan bagus. Tetapi dari pengalaman Ao, hal itu jarang
terjadi. Karya tersebut mungkin akan dikirimkan pada penyaring-penyaring lain,
dan masingmasing
dari
mereka hanya dapat membaca satu bagian darinya.
Walaupun
itu merupakan sebuah karya yang belum diselesaikan dengan sebuah sekuel, jika itu
merupakan sebuah mahakarya yang membuat seseorang ingin membaca volume selanjutnya
apa pun yang terjadi, mungkin itu akan melewati tahap kedua dan ketiga dan memenangkan
penghargaan.
Itu
bisa saja terjadi, namun dengan komentar negatif ‘karya yang belum selesai’, akan sulit untuknya melewati seleksi.
Ao tidak akan menyarankan Hiyuki untuk mengambil jalan sesulit itu.
“Tapi,
tapi … kalau selesai di sini … Subaru dan Cyan … tidak akan pernah … bertemu lagi.”
Hiyuki
yang duduk berlawanan arah dengan Ao melanjutkan dengan berurai air mata.
“Serahkan saja pada para pembaca. Kalau para
pembaca merasa Subaru dan Cyan bisa bertemu kembali, mereka biasanya akan
menghayalkan cerita di mana mereka bertemu. Dengan mengakhiri cerita ini, para
pembaca akan meneruskannya dan membuat cerita-cerita baru.”
Ao
berkata, dan Hiyuki menunjukkan ekspresi kesepian.
“Apa
ceritaku … akan menghilang?”
Ao
merasakan sakit menusuk dadanya sebab kedua mata dan suara Hiyuki tampak sangat
sedih. Akan tetapi, dia tetap mempertahankan perlakuan hangat dan lembutnya dan
bicara pada Hiyuki:
“Kalau
kamu mau menyimpan cerita ini untuk dirimu sendiri, kamu bisa saja tidak menunjukkannya
pada siapa pun. Kalau kamu mau orang lain membacanya, kamu harus punya
ketetapan hati untuk melepaskannya.”
Dan
kemudian, seolah dia mendesak Hiyuki untuk membuat keputusannya, Ao menatap tepat
pada mata Hiyuki dan bertanya:
“Apa
kamu mau menyerah untuk mengikuti kontes ini?”
“…”
Hiyuki
menundukkan pandangannya dan mengatupkan bibirnya yang memiliki sebuah tahi lalat
di sampingnya untuk menimbang-nimbang, dia kemudian mengangkat pandangannya secara
perlahan dan menjawab dengan wajah tegas:
“…
Tidak.”
Ao
tersenyum, itulah jawaban yang dia harapkan. Akan tetapi, rasa sakit di dalam
dadanya menjadi lebih kuat, yaitu perasaan sentimentil dari keinginan Ao.
Sejenak,
aku berharap Hinomiya-san akan menyerah …
Dia
tidak boleh membicarakan ini.
“Kalau
begitu, naskahnya sudah selesai. Kamu hanya perlu menuliskan sebuah sinopsis
dan pengenalan karakter, terus dikirim.”
“…
Ya.”
Hiyuki
mengangguk dengan kesedihan masih melekat di kedua matanya.
“Kita
sudah janji akan makan kue sebagai perayaan setelah menyelesaikan naskahnya.”
“…
Ya.”
“Permisi.”
Ao
memanggil pelayan.
Dia
menunjukan koleksi kartu poinnya kepada si pelayan.
“Bisakah
kami memakai kartu poin ini sekarang?”
“Ya,
tidak masalah. Kartu ini membuat kalian berhak menerima sepotong kue handmade, nanti
akan kuantar pada kalian.”
Mereka
mengumpulkan dua puluh cap secara keseluruhan. Mereka bisa mendapat sepotong kue
handmade per sepuluh cap. Ini kedua kalinya dia menikmati kue handmade tersebut
bersama Hiyuki.
Terakhir
kali kita memakan kue adalah untuk merayakan Hinomiya-san dan neneknya yang kembali
rukun …
Hiyuki
memberitahu neneknya hal-hal bagus tentang light novel, namun prasangka neneknya
terlalu mendalam, sehingga dia masih berjuang keras—Hiyuki mengatakan dengan
riang sementara bibirnya yang memiliki tahi lalat di sampingnya merekah
membentuk sebuah senyuman.
Mungkin
saja itu membutuhkan waktu yang lama, namun akan bagus jika neneknya mengerti.
Nenek
masih mengambil sikap ‘buku-buku dengan
sampul serupa manga adalah buku-buku yang rendahan dan berbahaya’ di depan
Hiyuki, namun Hiyuki menemukan light novel yang disembunyikan neneknya di ruang tamu.
Ada sebuah
pembatas buku bentuk bunga di halaman 50, nenek pasti membacanya diam-diam Saat
aku tidak ada.
Aneh
rasanya membayangkan hal itu.
Hiyuki
terkikik, dan Ao pun tertawa. Dari mana nenek Hiyuki mendapatkan light novel
itu? Terakhir kali, mereka memakan bolu gulung dengan isian kenari, krim kocok
dan mousse cokelat di atasnya. Rasanya sangat manis dan enak.
“Maaf
membuat kalian menunggu, ini kue handmade untuk hari ini.”
Si
pelayan meletakkan sebuah piring di depan Hiyuki, dengan soufflé buah persik
dan sepotong kue kopi susu dengan krim kocok di atasnya.
Setelah
si pelayan pergi, Ao membungkuk hormat pada Hiyuki:
“Selamat
atas selesainya naskahmu.”
Hiyuki
pun mengangguk dengan sopan:
“Terima
kasih sudah memberi pendapat pada proyek ini, dan semua bantuan yang kamu berikan
padaku.”
Dan
keduanya mengangkat kepala mereka, dengan masing-masing dari mereka merasa agak
kesepian.
“Mari makan.”
“…
Ya.”
Mereka
mengambil garpu mereka.
Kue
kali ini juga lezat, selezat yang terakhir kali mereka makan, namun percakapan
mereka tidaklah bersemangat.
“…Apa
kabar nenekmu?”
“…
Pembatas bukunya ada di halaman 150.”
“…
Semua berjalan dengan lancar.”
“…
Tidak juga.”
Suara
keduanya terdengar seperti sesuatu dimasukkan ke dalam mulut mereka, selagi
mereka mengobrol tentang keadaan masing-masing.
Jam
malam Hiyuki dikurangi satu jam. Ketika mereka menghabiskan kue mereka dan meninggalkan
kafe itu, tembok-tembok dan atap di gang tersebut sudah diwarnai merah oleh matahari
sore yang terbenam.
Udaranya
juga hangat dan sepoi-sepoi.
Rumah
Ao dan Hiyuki ada pada arah yang berlawanan.
Itulah
mengapa keduanya selalu berpisah di sini.
Setelah
mengucapkan ‘sampai jumpa di sekolah’ sambil tersenyum, Ao akan mengayuh sepedanya
sementara Hiyuki akan berjalan kembali ke rumah.
Pada
awalnya, mereka selalu tersenyum saat saling mengucapkan selamat tinggal, dada mereka
dipenuhi perasaan girang seraya memikirkan detil-detil percakapan mereka dengan
emosi manis.
Tetapi
hari ini—
“…”
“…”
Tidak
satu pun dari mereka mengucapkan selamat tinggal sewaktu mereka berdiri di sana
sambil menatap pada wajah satu sama lain.
Hiyuki
ragu untuk bicara, dengan ekspresi gelisah dan sedih.
Aku
mungkin terlihat sama …
Ao
dapat membayangkan apa yang ingin Hiyuki tanyakan pada Ao, dan kegelisahannya terhadap
Ao.
Karena
Ao ingin menanyakan hal yang sama pada Hiyuki dan memikul kegelisahan yang sama.
Saat
karya Hiyuki hampir mencapai akhir, perasaan gelisah dan kesepian tumbuh pada
diri Ao.
Bisakah
aku menyapa Hinomiya-san nanti dan mengobrol dengannya …?
Hiyuki
pastinya berpikir untuk menanyakan hal yang sama.
—
Setelah dua bulan batas waktu dan naskah selesai, akankah semua tetap sama?
Semua
teman sekelas pikir Ao dan Hiyuki berpacaran.
Setelah
melakukan sesuatu yang amat menyolok di sekolah, dan pergi bersama setiap hari,
wajar saja bagi yang lain untuk berpikir mereka berpacaran.
Namun
kenyataannya, Ao dan Hiyuki hanyalah seorang pengirim naskah dan seorang pengedit
naskah. Normalnya, mereka tidak akan mengetahui nama mereka satu sama lain, hubungan
mereka yang tidak biasa itu bermula hanya karena mereka kebetulan ada di kelas yang
sama.
Ao
membantu Hiyuki dengan naskahnya, dan Hiyuki akhirnya menyelesaikan karyanya, Dengan
begitu, peran Ao sebagai seorang penasihat akan usai.
Sama
saja dengan kehidupan sehari-hari mereka, Hiyuki telah berbaikan dengan
neneknya dan menjadi bagian dari kelas. Mungkin itu hanya sebuah hal kecil,
namun dia bisa mengekspresikan dirinya sekarang. Hiyuki yang sekarang lebih
mempesona dari Hiyuki yang bersembunyi di istana esnya dengan nama panggilan ‘si Gadis Es’.
Hinomiya-san
tidak percaya pada diri sendiri, jadi dia ingin bergaul denganku. Namun itu mungkin
karena aku adalah orang pertama yang baik padanya.
Situasi
tersebut adalah semacam hukuman yang tidak disengaja bagi Ao karena melihat nama
Hiyuki di kolom data pribadi di naskah. Dia seharusnya tidak mendekati si
peserta setelah mendapatkan data pribadi mereka dari pekerjaannya.
Dia
perlu merenungkan hal ini, untuk mendapatkan kepercayaan Hiyuki dengan menggunakan
posisinya sebagai seorang penyaring naskah—Dalam beberapa hal, nyatanya dia
menggunakan cara yang tidak pantas untuk mengumpulkan niat baik Hiyuki membuat Ao
merasa tak enak.
Sejak
dia melihat Hiyuki menyapa teman-teman sekelas mereka, makan bersama para gadis
dan tersenyum bahagia, Ao mulai terganggu dengan ini.
Hinomiya-san
akan baik-baik saja tanpaku.
Walaupun
bukan aku—Kalau ada orang lain menawarkan bantuan padanya, dia bisa berteman
baik dengan semua orang.
—
Kerja bagus, Ao.
Itulah
mengapa kata-kata semacam itu dari teman sekelasnya menusuk hatinya begitu
dalam.
Hubungan
antara Ao dan Hiyuki adalah spesial karena mereka terikat sebagai seorang penulis
dan editor.
Akan
tetapi, dari standar seorang laki-laki dan seorang gadis kelas dua
SMA—dibandingkan dengan Ao yang biasa saja dalam nilai pelajaran, olahraga dan
penampilan, Hiyuki seperti sekuntum bunga yang menarik di atas puncak tertinggi,
dan semua orang hanya memandanginya dari jauh karena dia terlalu sempurna. Tetapi
keadaan itu telah hilang, dengan semua orang berjuang untuk menyapa Hiyuki, dia
telah menjadi sebuah keberadaan
yang
jauh dari Ao.
Ketika
dia salah paham dengan Hiyuki karena Aeka, Ao meraih tangan Hiyuki dan menariknya
menjauh di depan teman-teman sekelas mereka ke pintu menuju atap. Emosi yang
membakar di dalam dirinya dengan kuat saat dia mencoba untuk menyelesaikan kesalahpahaman
tersebut telah banyak mereda.
Saat
itu, dia tidak mementingkan apa yang mungkin akan dirasakan Hiyuki dan hanya
ingin menyampaikan perasaannya pada Hiyuki, itulah mengapa dia melakukannya.
Berbeda
dari musim panas di tahun keduanya di SMP, ketika dia mementingkan perasaan gadis
yang disukainya. Kali ini, dia tidak akan mundur.
Ke
mana semua emosiku yang tadinya berapi-api itu pergi …?
Hiyuki
berdiri di bawah cahaya senja di depan Ao.
Walaupun
kita sangat dekat sehingga kita dapat saling bersentuhan hanya dengan mengulurkan
tangan …
Dia
mencoba untuk menggerakkan jari-jemarinya yang terkulai.
Tetapi,
dia tidak dapat mengangkat tangannya, maka Ao berkata dengan suara tenang:
“Kamu
sudah bekerja keras untuk dua bulan ini …”
Mata
Hiyuki mulai berkaca-kaca, dan dia menggerakkan sedikit bibirnya yang memiliki
tahi lalat di sampingnya.
“…
Terima kasih juga atas kerja kerasnya, Kazetani-kun.”
Dia
menggumam.
“Kalau
begitu, sampai jumpa besok di sekolah.”
“…
Ya.”
Setelah
memutarbalikkan badannya pada Hiyuki yang bersedih, Ao menginjak pedal sepedanya.
Dia
menoleh ke belakang beberapa kali selagi mengayuh, dan dia dapat melihat
punggung Hiyuki dan rambut cokelatnya yang memiliki kilau keemasan di
sekitarnya.
Dia
memandanginya dengan menyipitkan matanya selama sedetik dua detik, kemudian
lanjut mengayuh.
Adegan
di mana Subaru berpisah dengan Cyan yang ditulis Hiyuki terlintas dalam pikirannya.
Subaru
berdiri di pantai dengan disinari cahaya bulan yang keperakan begitu Cyan
berlari ke arahnya.
Subaru
berseru pada Cyan dengan suara keras:
“Terima
kasih! Terima kasih!”
Aku
senang bertemu denganmu.
Terima
kasih telah menemukanku.
Terima
kasih sudah memerlakukanku dengan baik.
Setelah
bertemu denganmu, aku berubah untuk pertama kalinya.
Terima
kasih.
Terima
kasih.
Tangan
Subaru diliputi sinar putih dan perlahan-lahan memudar. Cyan memegang tangannya
dan keduanya mengungkapkan perasaan mereka di saat terakhir ini.
“Aku
mencintai Cyan.”
“Aku
sangat mencintai Subaru.”
Setelah
mengungkapkan perasaannya kepada orang yang paling dicintainya dan mendengar dia
menjawab dengan hal yang sama, Subaru tersenyum dan perlahan menghilang.
“Aku
mencintaimu, aku akan selalu mencintaimu.”
Saat
dia mendengarkan suara Cyan.
…
Sebuah akhir yang luar biasa. Tidak ada yang salah dengan mengakhirinya seperti
ini.
Itu
benar, memakai adegan perpisahan untuk mengakhirinya akan meninggalkan kesan
yang bagus, itulah yang aku katakan.
Sama
saja dengan realita.
Alih-alih
mengejar dengan segan, lebih bagus untuk menyimpan semua kenangan indah di hatinya
dan berpisah, jadi dia juga akan tetap hadir di dalam benak si gadis.
Jadi
biarpun dadanya terasa sakit dan pahit, dia harus menahannya.
Sebelum
jurang pemisah dengan Hiyuki terisi, mereka sampai pada akhir semester pertama.
Setelah
mendapatkan lembar nilai mereka dan sebelum sekolah usai, Ao menghampiri Hiyuki
dan bertanya:
“Naskahnya
sudah dikirim?”
“…
Ya.”
Hiyuki
mengangguk dengan ekspresi kesepian. Setelah Ao menegaskan hal ini,
“Kuharap
kamu bisa lolos seleksi tahap pertamanya.”
Ao
berucap sambil tersenyum.
“Kalau
begitu, sampai jumpa setelah liburan musim panas.”
Dia
berjalan keluar kelas sendirian.
“Dan?
Sudah liburan musim panas nih, kenapa kamu enggak pergi kencan dengan pacarmu, bukannya
menghabiskan waktumu dalam tumpukan naskah ini? Ao?”
Seperti
apa yang telah dideskripsikannya, Ao terlihat seperti ditimbun kotak-kotak
kardus selagi dia membaca naskah-naskah tersebut dengan tulus hati. Sakutarou
tampak tidak senang saat bertanya demikian.
“Dan
kamu melakukannya di tempatku.”
“Betul,
kami bakal menyadari keberadaan Ao-kun jadinya, dan enggak bisa mesra-mesraan.”
Aeka
berkata, tetapi dia selalu memeluk Sakutarou, duduk di pangkuannya dan
menciumnya bahkan saat Ao berada di sana.
“Si
kembar di rumah bakal mengajakku main bareng mereka, jadi aku enggak akan bisa membaca
ini dengan tenang. Paman Saku, kau tahu aku mengambil 200 buku untuk bulan Juli
dan Agustus, aku enggak akan bisa selesai kalau aku tidak konsentrasi membaca.”
“Kenapa
banyak banget ngambilnya? Aku enggak bisa apa-apa dengan jumlah yang kamu sebut
tadi, tapi aku harus tanggung jawab kalau aku mengecewakan para penerbit secara
terang-terangan. Mengenai biaya untuk kencannya, bukannya kamu menyimpan semua
uang yang kamu dapat dari menyaring naskah? Pasti banyak banget tuh. Atau kamu
punya rencana untuk membelikannya hadiah yang luar biasa mahal? Dibandingkan
uang, wanita lebih memilih hatimu.”
“Ara,
kami juga mau hadiah-hadiah mahal kok. Karena itulah bukti cintamu pada
pacarmu.”
Aeka
seketika berkata.
Ao
mengalihkan pandangan dari keduanya dan berkata dengan dingin:
“Aku
tidak berencana untuk pergi kencan, karena Hinomiya-san bukan pacarku.
Naskahnya sudah selesai, jadi kami enggak punya alasan lagi untuk ketemuan.”
Walaupun
dia berkata demikian, dadanya terasa sakit.
Ahhh
… Hubunganku dengan Hinomiya terjadi karena naskah-naskah itu …
Ekspresi
kesepian Hiyuki ketika mereka mengucapkan selamat tinggal di pintu masuk kafe terlintas
di pikirannya. Dia merasa seolah tenggorokannya sedang ditarik-tarik, namun
demi Hiyuki, Ao pikir inilah pilihan terbaik.
Lebih
baik bagi Hinomiya-san untuk menjaga jarak dariku. Dia sudah enggak sendirian lagi,
kalau kita menambah jarak kita, dia akan tahu di samping pekerjaanku sebagai seorang
penyaring naskah, aku cuma anak SMA biasa.
Hanya
Ao seorang yang tidak istimewa bagi Hiyuki. Setelah Ao terdiam, Sakutarou
tiba-tiba bicara:
“Ao,
kamu bego ya?”
Naskah-naskah
di tangannya dirampas secara mendadak oleh Sakutarou.
Sebelum
Ao menyadarinya, Sakutarou sudah berdiri di depannya, dan menunduk menatapnya
dengan wajah tidah senanng. Aeka di sampingnya juga menatap Ao sambil memberengut.
“Ke
mana dirimu yang bilang kamu akan kembali bersamanya ketika dia kabur dari
rumah? Kamu keren banget waktu kamu bilang dengan tegas ke neneknya kalau
kalian berdua akan pergi ke sana bersama! Menyentuh banget tahu! Akhirnya, kamu
cuma bisa bertarung di sampingnya saat dia rapuh? Apa kamu enggak bisa bersama
Hinomiya yang ceria? Kamu bisa menawarkan bantuan untuk orang-orang yang lebih payah
darimu, tapi takut dengan orang yang enggak seperti itu, bukannya itu
memalukan?”
Melihat
Sakutarou marah adalah pemandangan yang sangat langka.
Ao
terkagum-kagum saat mendengar apa yang dikatakan pamannya.
…
Aku ‘ngerti, karena Hinomiya-san sendirian dan tidak punya siapa-siapa untuk diandalkan,
itulah kenapa aku bisa bergaul dengannya. Menjaga jarak dari Hinomiya-san demi
kebaikannya hanya alasan, mungkin aku cuma punya perasaan rendah diri kalau bersama
Hinomiya-san …
Ketika
Sakutarou melihat betapa ucapannya menampar Ao setelah Ao menyadari betapa piciknya
dia, Sakutarou berkata dengan ekspresi pahit:
“Tidak
peduli naskah mana yang ada di depanmu, kamu bisa menilainya tanpa pilih-pilih ‘kan?
Tidak menguasai, tidak ada prasangka, tidak subjektif ketika kamu membaca
naskah-naskah Itu dengan gembira, kenapa enggak bisa melihat masalah-maslahmu
sendiri dengan cara yang sama? Pamanmu sedih sekali lho …”
Sakutarou
menatap Ao dengan ekspresi yang sangat murung dan melanjutkan:
“Waktu
di kafe, bukannya kamu menjelaskan padanya kenapa si heroine menyukai si tokoh utama?
Bukannya itulah yang kamu rasakan?”
Aeka
yang tampak khawatir di sebelah Sakutarou menambahkan:
“Hinomiya-san
kelihatan bahagia banget waktu Ao bilang begitu. Aku juga hampir nangis.”
Ao
duduk di lantai dalam diam sembari mendengarkan penjelasan serius kedua orang
dewasa itu dengan hati merasa pahit. Dia lalu pulang ke rumah dan memikirkan
apa yang Sakutarou dan Aeka katakan di kamarnya sendirian.
Apa
yang sebenarnya kurasakan tentang ini …
Pov
Hiyuki
“Hiyuki,
kamu mau pergi?”
Hiyuki
sedang mengenakan sandal dengan tali putih untuk musim panas di pintu masuk ketika
neneknya memanggil, jadi dia menengokkan kepalanya.
“Ya,
aku mau pergi ke perpustakaan dan akan kembali sebelum jam malam.”
“Begitu
ya …”
Nenek
melihat ke arah tas yang Hiyuki bawa dengan ekspresi keras.
“…
Akhir-akhir ini, perpustakaan itu juga menyediakan light novel juga, membuatku mengeluh
saja.”
Dia
menggumam.
Itu
terdengar seperti sesuatu yang didengarnya dari orang lain, namun nenek tidak
akan pernah membicarakan light novel dengan orang lain, jadi dia mungkin
mencari sendiri light novel di perpustakaan.
Bibir
Hiyuki membentuk sebuah senyuman.
“Hiyuki,
apa kamu menemui seseorang di perpustakaan? Misalanya, Kazetani-kun.” Sudut
bibir Hiyuki langsung layu.
“…
Bukan, aku tidak ada rencana untuk ketemuan dengan Kazetani-kun selama liburan musim
panas.”
Alis
Nenek berkedut. Wajahnya berubah dari keras menjadi senang dan menutup rapat mulutnya,
namun tetap berkata dengan lembut:
“Tidak
apa-apa sekali-kali ketemuan.”
“…
Kazetani-kun sibuk.”
Hiyuki
pun menjawab dengan tenang, lalu tanpa menunggu jawaban,
“Aku
pergi.”
Dia
berjalan menuju pintu.
Masih
ada waktu sebelum malam dan sinar matahari tidak menunjukkan tanda-tanda akan memudar.
Halaman tersebut mungkin dingin, namun panas dari aspal jalanan tampaknya memancarkan
hawa panas. Dilihat-lihat, dia dapat melihat udara bergetar karena panas yang meningkat.
“Panas
…”
Hiyuki
menyeka keringat dengan tangannya sambil memikirkan Ao.
Kazetani-kun
… dia mungkin sedang bekerja sebagai penyaring … dan membaca naskah-naskah … Dua
pekan sejak liburan musim panas dimulai—
Hiyuki
sering memikirkan Ao.
Kazetani-kun
berkata bahwa cerita di naskah harus berakhir dengan layak.
Dia
bilang dia tidak akan menemuinya lagi setelah liburan musim panas.
Kedua
mata Kazetani-kun terlihat tenang waktu itu.
Hiyuki
terus memikirkan tentang adegan-adegan ini dan makna di baliknya.
Aku
tidak punya teman dan punya kepribadian yang pemurung, jadi Kazetani-kun mengasihaniku
dan mengajariku menulis light novel … Karena Kazetani-kun sangat baik … Waktu
aku memintanya untuk membantuku menulis light novel, dia mungkin menerimanya karena
dia tidak bisa menolakku … Dan dalam dua bulan seterusnya, Kazetani-kun tidak
menunjukkan tanda-tanda kalau dia tidak menyukainya, menemani Hiyuki dengan
sesi menulisnya sepulang sekolah setiap hari.
…
Berkat Kazetani-kun, aku bisa bicara dengan semua orang di kelas sekarang, dan
tidak menganggap nenek mengerikan lagi … Aku bisa membaca dan menulis light
novel di rumah sekarang …
Kazetani-kun
pasti merasa sudah menyelesaikan tugasnya.
—
Cewek-cewek di kelas menanyaiku, apa aku pacaran dengan Kazetani-kun
…
Aku harus … jawab apa?
Hiyuki
bertanya dengan jantung berdebar-debar, dan Kazetani-kun menjawab dengan
lembut:
— “
Sama seperti biasa. Bilang saja kalau kita sama-sama memiliki hobi yang sama,
kita tidak pacaran. Aku menjawab begitu.”
Dia
tidak merasa malu atau tidak terganggu sama sekali, Ao berkata dengan sikap
yang tenang dan lembut.
Hiyuki
merasakan dadanya sesak.
— …
Ya.
Itulah
satu-satu jawaban yang bisa dia ucapkan. Seperti Subaru yang berpisah dengan
Cyan, aku tidak bisa bergantung pada Kazetani-kun lagi …
Sejujurnya,
dia tidak ingin ceritanya berakhir.
Awalnya,
dia merasa Subaru yang kembali ke dunia nyata itu wajar, karena semua hal baik sudah
berakhir. Akan tetapi, semakin sering dia menghabiskan waktu bersama Ao,
semakin ragu dia tentang adegan perpisahan ini.
Dia
ingin menulis sebuah cerita yang lembut tentang kehidupan sehari-hari.
Orang-orang
yang membaca cerita itu pasti akan berpikir setelah Subaru dan Cyan berpisah,
mereka akan meneruskan hidup mereka masing-masing …
Kazetani-kun
dan aku juga …
Hiyuki
mengembalikan buku itu ke perpustakaan yang pendingin ruangannya terlalu
dingin, dan memilih sebuah buku baru. Dia juga menjelajahi rak untuk
novel-novel baru, melihat volume pertama seri yang direkomendasikan oleh Ao,
dan meminjam buku itu juga.
Dua
buku referensi untuk karya selanjutnya dan satu light novel, dia meminjam tiga
buah buku secara keseluruhan. Ketika dia meninggalkan perpustakaan tersebut
langit telah diwarnai oranye yang samar-samar.
Malam
akan segera datang.
Hiyuki mengingat kembali dengan sedih tentang hari di mana dia berpisah dengan Kazetani-kun di pintu masuk kafe, ketika dia membawa tas berisi buku-buku di bahunya sambil berjalan
menyusuri
jalan.
Aku
harus … ke kafe.
Pikiran
itu terlintas di benaknya.
Kazetani-kun
mungkin ada di sana.
Apa
yang kupikirkan, enggak mungkin Kazetani-kun ada di sana … Namun begitu pikiran
itu muncul di benaknya, kakinya tanpa sadar membawanya ke pintu masuk kafe yang
mana belum pernah Hiyuki kunjungi tiga minggu ini.
“Selamat
datang, meja untuk satu orang?”
Pelayan
yang sudah dikenalnya itu bertanya.
Hiyuki
melihat-lihat ke dalam toko.
Selain
wanita paruh baya yang duduk di sebelah jendela, tidak ada pelanggan lain.
“Nona
…?”
Pelayan
itu memanggil Hyuki yang berdiri di sana dalam diam. Hiyuki kembali sadar
setelah itu.
“…
Ya, meja untuk satu orang.”
Dia
menjawab.
Pelayan
memberitahu Hiyuki bahwa dia bisa duduk di tempat yang dia inginkan, jadi
Hiyuki pergi ke mejanya yang biasa ditempatinya.
Sudah
kuduga, aku cuma bisa bertemu Kazetani-kun di semester dua … Ketika semester
dua dimulai, jaraknya dengan Ao mungkin akan bertambah jauh.
Tubuhnya
terasa lemas.
Hiyuki
memesan teh bunga krisan.
Teko
dan cangkirnya diantarkan padanya cukup cepat. Hiyuki menuang cairan keemasan dengan
aroma bunga yang menyegarkan ke dalam cangkir.
Setelah
aku menghabiskan ini … aku harus cepat-cepat pulang … Sudah hampir waktunya jam
malamku …
Dia
menatap uap yang mengepul dari cangkirnya.
Seseorang
menarik kursi di depannya dan duduk.
Hiyuki
mengangkat kepalanya, dan melihat seorang pria usia tiga puluhan yang tampak seperti
seorang pekerja lepas duduk di sana. Hiyuki terkejut.
“Hai,
ingat aku?”
“…
Anda pamannya Kazetani-kun …”
“Betul.”
Berperan
sebagai penulis naskah, produser dan perwakilan perusahaan, paman Kazetani-kun
menatap Hiyuki dengan senyum lebar.
“Kupikir
aku mungkin bisa bertemu dengan pacar-chan kalau aku datang kemari, dan aku beruntung.
Ada sesuatu yang harus kukatakan padamu, pacar-chan.”
“Te-terima
kasih sudah merawatku hari itu. Tapi aku bukan pacarnya Kazetani-kun.”
Hiyuki
membungkuk dalam-dalam, lalu berkata dengan tubuh terkulai. Sakutarou menatapnya
lembut.
Ao
dan Sakutarou tidak tampak mirip, namun tatapan lembut Sakutarou mengingatkan Hiyuki
pada Ao.
“Ao
hebat dalam hal menilai naskah, tapi buruk dalam hal menilai gadis-gadis. Dari
reaksi pacar-chan, bahkan seorang penonton sepertiku tahu apa yang pacar-chan
mau.”
Hiyuki
merasakan wajahnya memanas.
A-apa
yang kumau?
Hiyuki
berekspresi takut dan tatapan Sakutarou tiba-tiba menyiratkan kesedihan.
“Ara
… Bahkan kalau dia sadar, dia akan tidak percaya diri dan kebingungan. Cowok
itu bisa mengambil tindakan untuk orang lain, tapi untuk dirinya sendiri, dia
tidak akan berani melakukannya. Karakternya cocok untuk menjadi seorang tokoh
utama.”
Suara
Sakutarou dengan lembut mengetuk hati Hiyuki.
Ahh,
memang benar Kazetani-kun cocok untuk menjadi seorang tokoh utama. Ceria, adil,
jujur, siap berteman, dan tidak ragu untuk menawarkan bantuan pada siapa saja.
Dia
seluas langit biru—
“Kalau
si tokoh utama bermalas-malasan, tidak bisa maju dan gagap bicara, akan
kubiarkan si heroine mengambil inisiatif.”
Sakutarou
mengedipkan sebelah mata, lalu membuat gestur menembak pada Hiyuki dengan jari
telunjuknya.
Jantung
Hiyuki berdegup cepat.
Membiarkan
si heroine mengambil inisiatif …?
“Ma-maaf,
aku harus pergi.”
Sudah
hampir jam malam, jadi Hiyuki berdiri dengan terburu-buru dari tempat duduknya.
Dia
membungkuk pada Sakutarou dan meninggalkan kafe. Sakutarou yang menopang wajahnya
dengan telapak tangan tersenyum dan melambai padanya.
Kalau
si tokoh utama tidak bergerak, lalu membiarkan si heroine mengambil inisiatif
…?
Tapi,
kalau aku bilang pada Kazetani-kun tentang perasaanku, dia akan merasa
kerepotan
…
Rasa
tidak nyaman karena tidak cocok dengan Kazetani-kun sekali lagi muncul di benak
Hiyuki.
Kazetani-kun
itu seperti langit yang luas dan indah, sedangkan aku—
Dia
sampai di rumah sebelum jam malam. Ada sebuah surat di kotak surat, dan Hiyuki mengambilnya.
“Aku
pulang.”
Dia
berseru ke dalam mansion.
Neneknya
mungkin ada di dalam kamar, jadi tidak ada yang menjawab Hiyuki. Dia melepas sandalnya
dan memeriksa untuk siapa surat itu—dan menahan napas.
Ini
kontes pendatang baru …
Lembar
penilaian untuk naskah yang dia kirim sebelumnya ada di sini.
Kirimanku
yang dinilai oleh Kazetani-kun!
—
Aku tidak mengirimnya ke babak kedua, tapi aku rasa karya Hinomiya-san menarik sekali.
Aku menulisnya di lembar penilaian juga, butuh waktu sebelum dikirimkan, jadi tolong
dibaca.
Mengingat
kata-kata Ao, Hiyuki menenangkan jantungnya yang berdebar, membuka amplop untuk
membaca surat itu.
Isinya
meliputi sebuah dokumen penjelasan dan lembar penilaian berukuran A4. Hiyuki mengeluarkan
lembar penilaian tersebut dan membacanya.
Judul: ‘Aku si penyendiri datang ke dunia lain,
menjadi pahlawan, raja iblis dan kaisar di sebuah surga harem’
Nama pena:
Yoroisame
Keseluruhan: C+, tidak terpilih
Adalah kalimat
pertama yang dilihatnya.
Dulu, di sistem
penilaian lima kelas, dia mendapatkan nilai E atau D, tapi dia dapat C+ kali ini!
Hanya
hal ini cukup membuat Hiyuki berkaca-kaca—
Dia
lanjut membaca dengan napas tertahan.
Cerita: B
Ceritanya disusun
dengan sangat baik, perhatian yang digunakan untuk mengatur plotnya bagus. Di
adegan kecelakaan lalu lintas di awal, penggunaan font yang besar sebagai
penutup meninggalkan kesan mendalam, dan aku tertarik. Ini hal bagus.
Bagian setelah si
tokoh utama Radiance datang di dunia yang berbeda dan sebelum dia bertemu
dengan Sylvia dan yang lain agak terlalu panjang.
Kusarankan untuk menyingkat
deskripsi di bagian ini, atau membuat temponya lebih lambat. ‘Twist’ untuk
Sylvia dan Fiona yang merupakan satu orang yang sama bagus, tetapi terlalu banyak
petunjuk yang diberikan kepada pembaca dan mengurangi kesan kejutannya.
Aku akan
menyarankan untuk menyembunyikan beberapa informasi untuk mendapat hasil yang
lebih baik. Ini berakhir dengan reuni bahagia, jadi adanya kejadian setelah itu
terasa kurang tepat.
Penulisan: B-
Penulisannya sering
menggunakan ukuran font yang bermacam-macam, tanda baca khusus, tanda baca
bertumpuk, yang mana merupakan cara yang gembira untuk menulis. Font yang besar
di akhir adegan pembukanya terasa sangat menyegarkan.
Tolong hargai
betapa gembiranya perasaanmu saat menulis dengan cara demikian dan bekerja
keras untuk menggunakan metode ini dengan lebih efektif. Di sisi lain, menggunakan
teknik ini secara berlebihan akan membuatnya sulit untuk meninggalkan kesan
yang mendalam, jadi mohon lakukan dengan bijaksana.
Alih-alih
bagian-bagian dialog yang panjang, akan lebih baik untuk memasukkan deskripsi-deskripsi
dari ekspresi dan gerakan, yang akan membuat ritme cerita lebih mudah untuk
dibaca. Kamu memiliki dasar untuk menulis, silakan coba teknik-teknik lain untuk
mengekspresikan dirimu.
Tidak
seperti lembar penilaian lain yang diterimanya dulu, Hiyuki merasakan
tenggorokan dan dadanya bergetar saat membaca komentar yang ditulis dengan
kata-kata yang lembut.
Dia
merasa Ao mengatakan kata-kata ini pada Hiyuki dengan suara ceria, membuat
kedua matanya basah.
— …
Apa karyaku memang … punya bagian yang menarik?
—
Ya,
—
Karyamu belum sempurna, perubahan ukuran font dan tanda baca agak berlebihan,
yang mungkin meninggalkan kesan buruk, tapi ada poin-poin bagusnya juga. Kalau
kamu keluarkan semua, kamu pasti biasa lolos babak pertama seleksi.
Pengaturan karakter: B+
Semua karakter
perempuannya adalah gadis-gadis yang imut dan ceria! Kalau kamu bisa mengurangi
sedikit jumlahnya, akan lebih mudah bagi para pembaca untuk mengerti.
Si tokoh utama
Radiance adalah seorang tokoh yang baik sekali yang bekerja keras.
Radiance selalu
perhatian dengan orang-orang di sekitarnya, dan aku bisa merasakan sikap serius
dan baik hatinya.
Ada terlalu banyak
kalimat berteriak, tindakan yang sarat akan humor ini terasa tidak coock,
membuatnya sulit untuk memahami pesona Radiance. Di adegan-adegan di mana
Radiance sedang berpikir dengan serius, bagian bercanda seharusnya tidak terlalu
berlebihan. Kalau kamu menggambarkan perasaan Radiance scara detail, kesan yang
akan ditinggalkan akan jadi lebih baik. Dia adalah karakter yang hebat, tolong
berusaha lebih keras lagi untuk menunjukkan pesonanya pada para pembaca.
—
Karakter utama di ‘Aku si penyendiri datang ke dunia lain, menjadi pahlawan, raja iblis dan
kaisar di sebuah surga harem’ sangatlah mempesona.
—
Be-bercanda kamu.
—
Aku enggak bohong.
Sebagai
jawaban pada Hiyuki yang tidak memahaminya sama sekali, Kazetani-kun berkata
dengan nada ceria bahwa si tokoh utama yang meminta maaf pada si pemilik mobil
yang menabraknya membuat Ao berpikiran baik tentangnya.
Ketika
kita mulai menulis naskah-naskah bersama, Kazetani-kun selalu menemukan poin bagus
di ceritaku dan memujiku. Dari bagian yang tidak ditulis dengan baik, dia tidak
menyangkal atau mengejekku, dan hanya bilang kita harus memikirkannya bersama
untuk menyampaikannya dengan baik pada para pembaca …
—
Hinomiya itu seorang pengirim naskah! Tulis saja apa-apa yang kamu suka. Kuharap
kamu bisa memikirkan bagaimana cara kamu menyampaikan perasaan ini kepada orang-orang
yang membaca ceritamu.
Dia
selalu baik hati.
Dia
selalu menyemangati Hiyuki.
Di
lembar-lembar penilaian yang sebelumnya, tokoh utamanya yang dikritik gagal beresonansi
dengan para pembaca, tidak menyenangkan dan sombong. Namun Kazetani-kun bilang
dia menyukai tokoh tersebut.
Orisinalitas: C+
Potensi komersial: B-
Jantungnya
berdentum-dentum di dalam dadanya dan pandangannya mengabur. Hiyuki terus mengerjapkan
matanya selagi dia membaca, dan akhirnya sampai pada kolom komentar keseluruhan.
Komentar keseluruhan:
Mengatur jalan
ceritanya dengan hati-hati di tipe cerita yang populer, mendesain tokoh-tokoh
yang akan disukai para pembaca, menggunakan permainan kata-kata,
mengubah-ubah
ukuran fon dan tanda baca khusus. Bisa kubilang si penulis sangat menikmatinya.
Ini adalah karya yang membagi perasaan-perasaan bahagia dengan para pembaca dan
membuat tersenyum.
Latar yang tampak
generik sekilas menunjukkan pemikiran yang dituangkan
penulisnya, yang
mana sangat menarik. Sama seperti si tokoh utama Radiance, ada perbedaan antara
penampilan yang dia tampilkan di depan umum dengan apa yang sebenarnya dia
rasakan, kupikir karya ini sangat penuh dengan makna.
‘Kupikir karya ini sangat penuh dengan makna.’
Hiyuki
terus membaca bagian ini lagi dan lagi.
Hiyuki
selalu merasa bahwa Ao mengagumkan, dan seluas langit biru. Dia tidak seperti Hiyuki
yang pemurung dan membosankan, yang membuatnya sedih.
Dan
begitulah, Hiyuki menyerah. Dia tahu bahwa dia tidak akan pernah menjadi gadis
yang spesial bagi Kazetani-kun.
Namun
Kazetani-kun menemukan banyak hal-hal yang bagus di karya Hiyuki.
Dia
memuji karya Hiyuki dan berkata bahwa itu ‘sangat
penuh dengan makna’.
Ada beberapa bagian
yang belum matang, dan tidak dapat memahami penggunaan teknik khusus tersebut
dengan baik. Terlalu khawatir dengan pandangan para pembaca dan terlalu
memerhatikan selera mereka, ini perlu dikembangkan. Kalau poin-poin ini
berkembang nantinya, penulisannya akan jadi lebih baik dan lebih baik lagi.
Mohon lanjutkan menulis dengan gayamu sendiri.
Aku menanti untuk
membaca karyamu selanjutnya.
Aku menunggu kirimanmu selanjutnya.
Air
mata menetes pada kata-kata tersebut.
Melihat
kata-kata yang hangat yang jaraknya berdekatan itu, air mata Hiyuki terus
menetes.
Neneknya
yang berjalan dari dalam mansion melihat Hiyuki menangis dan membelalakkan matanya
terkejut.
“Hiyuki,
ada apa?”
Hiyuki
berkata dengan suara yang bergetar saat air matanya berjatuhan:
“Ne-nenek
… Ada seseorang yang ingin kutemui apa pun yang terjadi, boleh aku menemuinya?”
“Ini
sudah lewat jam malammu, pergi besok saja bisa?”
Nenek
mengerutkan alisnya, dan Hiyuki menangis:
“Aku
harus pergi sekarang!”
Dia
harus pergi sekarang, ketika perasaannya meletup-letup setelah membaca lembar penilaian
Ao.
Keberaniannya
akan layu besok.
Nenek
mempertahankan ekspresi seriusnya dan menatap Hiyuki lurus-lurus.
“Jam
delapan malam, tidak boleh lebih telat dari itu.”
Hiyuki
menjawab:
“Terima
kasih, Nek.”
Hiyuki
memasukkan kembali lembar penilaian itu ke dalam amplop, meletakkannya ke dalam
tas, memakai sepatunya lagi dan meninggalkan mansion. Dia berlari melewati halaman
yang diwarnai merah oleh mentari senja, menuju pagar dan menelepon Kazetani-kun.
—
Akan kubiarkan si heroine mengambil inisiatif.
Suara
Sakutarou bergema di kepalanya, membuat Hiyuki merasa gelisah.
‘Selama ini, aku punya banyak hal yang
ingin kukatakan pada Kazetani-kun. Kalau tidak kukatakan sekarang, aku tidak
akan pernah bisa mengatakannya lagi.’
Subaru
berpisah dengan Cyan, dan Subaru kembali ke dunia aslanya.
Semua
hal baik akan segera berakhir.
Tapi—
Tetapi
setelah ceritanya berakhir, jika Subaru ingin bertemu lagi dengan Cyan dan mengambil
tindakan—
“Hinomiya-san?
Ada apa?”
Setelah
panggilannya diangkat dan terdengar suara Ao, Hiyuki berkata:
“Kazetani-kun,
aku akan menunggumu di samping kolam renang di sekolah. Kazetani-kun, kamu bisa
datang?”
Apa
yang terjadi dengan Hinomiya-san?!
Pov Ao
Beberapa
menit sebelum panggilan telpon.
Begitu
matahari menjadi semakin meredup dan pemandangan berganti menjadi malam, Ao mengayuh
sepedanya dengan kencang. Dia didesak oleh Sakutarou dan Aeka tadi siang, dan Ao
tidak membaca naskah-naskahnya di rumah, dan terus memikirkan Hiyuki.
Dia
meletakkan ponselnya di lantai dan terus menatapya, berpikir dia akan menelepon
Hiyuki sepuluh menit lagi dan bertanya apa dia ingin bertemu di kafe. Tetapi
sepuluh menit kemudian, bukan, dua puluh menit kemudian—Ketika dia masih
ragu-ragu, ponselnya tiba-tiba berdering.
Dari
Hiyuki.
Dia
bergegas mengangkat ponselnya, dan mendengar suara yang mendesak.
—
Aku akan menunggumu di sebelah kolam renang di sekolah.
Apa
yang terjadi di kolam renang?
Karena
Hiyuki hanya berkata kalau Hiyuki ingin dia ke sana, Ao hanya bisa terburu-buru
menuruni tangga, keluar dari rumahnya dan cepat-cepat menaiki sepedanya.
Pov Sakutarou
“Si
heroine mungkin mengambil tindakan, ‘kan?”
“Yah,
mungkin Ao akan menunjukkan keberaniannya juga.”
Berlokasi
di sebuah gang kecil, di kafe di mana Ao dan Hiyuki mengerjakan proyek kerja kreatif
mereka sepulang sekolah, Sakutarou dan Aeka menghabiskan waktu mereka dengan santai.
Setelah
Hiyuki meninggalkan kafe, Sakutarou mendapat telepon dari Aeka.
“Rekamannya
selesai lebih cepat dari yang kukira, aku akan datang dan menemuimu sekarang.”
Dan
mereka bertemu di sini.
“Aku
cemburu banget sama Ao.”
Sangat
jarang melihat Sakutarou komplain pada Aeka.
“Karena
dia menghabiskan masa mudanya dengan seorang cewek secantik Hinomiya-san?”
“Yah,
aku cemburu karena itu juga … bukan cuma itu. Anak itu menganggap apa pun yang dia
baca itu menarik, dan dia sungguh-sungguh. Ketika pertama kali membuat suatu
karya, aku tergerak oleh semua hal yang kulihat, dan menganggap semua yang
kubaca menarik dan seru. Aku akan membalik majalah-majalah manga sampul demi
sampul, dan menonton semua anime-anime baru. Semua itu menarik. Tapi sekarang,
apa pun yang kutonton, apapun yang kubaca, aku enggak menganggap mereka
semenarik dulu. Aku enggak mau mengakui ini, tapi aku merasa sangat gelisah dan
kosong.”
Sakutarou
menopang wajahnya dengan satu tangan sembari berujar dengan malas. Aeka mendengarkannya
dalam diam.
“Ini
akan berakhir kalau aku mulai mengoceh tentang betapa membosankannya
karya-karya mereka. Pasti akan jadi jelek banget. Cuma membayangkan aku jadi
kayak begitu bikin merinding. Kalau cuma itu yang bisa kurasakan, aku akan
berhenti dari industri ini. Naskah-naskah yang dibaca Ao memang beruntung. Ao
membacanya dengan perasaan riang dan gembira, dan menemukan banyak hal baik
tentang itu. Akan jadi masalah kalau semua pembaca seperti Ao, para kreator
akan kehilangan rasa menggebu-gebu mereka. Tapi kupikir bagus kalau ada
pembaca-pembaca beruntung dan naskah-naskah beruntung yang sedang dibaca juga.”
Sakutarou
menggerakkan tangan yang menopang kepalanya, menyandarkan kepalanya di atas
meja dan mengeluh:
“Kayaknya aku enggak bakal bisa jadi seperti
Ao, dan menganggap semua hal menarik. Ahhh, ngeselin banget. Kalau aku bisa
membaca dari pandangan Ao dan melihat dunia dengan mata Ao, betapa indahnya
semua hal yang kulihat.”
Sakutarou
menggumamkan ‘sialan’, dan menekankan jidatnya ke atas meja seperti bocah.
Tidak
sepertinya, Aeka memakai suara yang lebih dewasa dan hangat dari biasanya dan berujar
dengan lembut:
“Ao
itu aspirasinya Sakutarou ‘kan?”
“Bukan,
dia seperti aku yang dulu yang sekarang sudah mati. Dari sepuluh tahun yang
lalu.”
Sakutarou
menjawab, dan Aeka memberengut:
“Kenapa
kamu bohong soal umurmu sih, kamu sudah dewasa sepuluh tahun yang lalu ‘kan? Dan
aku lihat album SMA-nya Saku, kamu kelihatan kayak preman, enggak ada
mirip-miripnya Sama Ao-kun yang ceria.”
Setelah
menyelesaikan keluhannya, Aeka kembali pada suara lembutnya.
“Aku
bisa mengerti kamu yang cemburu pada Ao-kun. Ao-kun itu anak yang sehat dan polos.
Aku ingin seperti Ao-kun dan menerima segala sesuatu dengan hati yang baik
dengan tatapan menyegarkan dan memperlakukan semua orang dengan lembut …”
Aeka
lalu mengulurkan tangannya dengan lembut dan menepuk kepala Sakuratu yang rambutnya
berantakan yang bersandar di atas meja.
“Di
mata Saku, aku pasti kelihatan keras dan kaku sekali.”
Aeka
bergumam dengan nada pahit, dan Sakutarou menjawab dengan wajah masih berada di
atas meja:
“Wako
itu wanita yang baik, hatiku tuh yang rusak.”
“Fufu, bukan begitu, mungkin kita telah
berpindah dari tahap yang terasa sangat baru, dan kepada tahap selanjutnya.
Seperti udara, yang tanpanya kita tidak bisa hidup. Sepasang kekasih yang mirip
dengan pasangan tua. Bagaimana? Saku, mau mencapai tujuan ini bersama-sama?”
Sakutarou
menoleh dan mendongak menatap Aeka. Saat dia melihat senyuman gembira Aeka,
bibirnya pun membentuk sebuah senyuman.
“Boleh
juga.”
Dia
bergumam dan menarik Aeka mendekat dan mengecupnya di pipi.
“Sip,
aku sudah kenyang, waktunya pulang dan bekerja keras!”
Sakutarou
berdiri dengan penuh semangat, dan Aeka berujar dengan wajah yang memerah.
“Dasar
bego! Suasananya baru aja membaik! Aku pasti—enggak akan putus denganmu lagi.”
Dia
memeluk Sakutarou dengan erat.
Kembali ke sisi Ao
Ketika
langit merah perlahan berubah menjadi ungu terang, Ao lekas memasuki gerbang sekolah
dengan menaiki sepedanya.
Adegan
terakhir di cerita Subaru dan Cyan juga begini.
Subaru
berdiri di tepi pantai pada malam hari saat ombak menyapu pantai, bersiap
kembali ke dunia asalnya. Cyan berlari ke sisinya—
Memarkir
sepedanya di samping pagar yang mengelilingi kolam renang, dia dapat melihat sosok
Hiyuki di sisi lain pagar.
Rambut
cokelat mudanya yang panjang bersinar disebabkan sinar dari luar. Sehelai gaun terusan
sederhana membungkus tubuh langsingnya, roknya sedikit melambai diembus angina malam
musim panas yang lembap, dia terlihat seperti seorang putri duyung di tepi
pantai.
Matanya
memandangi air yang beriak di kolam.
Hiyuki
mungkin mendengar suara pedal sepeda dan mendongak. Memandang dari pagar, dia bertemu
tatap dengan Ao, walaupun bibirnya yang memiliki tahi lalat di sampingnya bergerak,
namun tidak ada suara yang keluar, persis seperti putri duyung sungguhan.
Ekspresi
cemas muncul di wajahnya yang mungil.
“Ada
apa, Hinomiya-san?”
Di
telinga Cyan yang sedang berlari kencang, suara Subaru terdengar serak dan
tidak jelas.
Seperti
Cyan yang ingin bergegas ke sisi Subaru sebelum dia pergi, Ao yang merasakan
hal yang sama saat memarkir sepedanya dan berlari dengan terburu-buru ke pagar,
suara Hiyuki menembus udara malam dan memasuki telinga Ao.
“Kazetani-kun
… Terima kasih …!”
Di
bawah cahaya dari lampu jalan, dia berdiri di sisi kolam renang seorang diri.
Di sisi lain pagar, Hiyuki berseru dengan wajah berkerut. Rambut panjangnya
bergoyang ketika dia berseru lagi dan lagi dengan mata berkaca-kacanya pada Ao:
“Aku
selalu ingin mengucapkan terima kasih! Terima kasih sudah membaca karyaku! Terima
kasih sudah bilang ceritaku menarik! Terima kasih sudah menemukan hal-hal baiknya!
Terima kasih sudah mendengarkan keinginanku dan menulis bersamaku! Berkat Kazetani-kun,
aku jadi percaya diri sekarang! Terima kasih!”
Seperti
Subaru yang berterima kasih pada Cyan. Subaru memikirkan semua momen indah yang
dia habiskan bersama Cyan, hatinya dipenuhi kebahagiaan sementara dia
mengutarakan semua terima kasihnya berulang-ulang. Hiyuki terus berseru seperti
yang Subaru lakukan.
Terima
kasih, Kazetani-kun, terima kasih!
Terima
kasih sudah mengubahku!
Terima
kasih sudah memperlakukanku dengan baik!
Di
mata Ao, sisi kolam renang yang bercahaya biru tampak seperti dunia bawah air.
Dia
teringat saat dia pergi ke akuarium bersama Hiyuki dan jantungnya
berdentum-dentum saat dia mendekati Hiyuki perlahan, langkah demi langkah.
—
Mencintai seseorang bukan karena dia menarik … Tapi menganggapnya menarik
karena kamu jatuh cinta padanya?
—
Keduanya bisa saja terjadi. Ketika kamu pikir si orang ini mempesona, itulah
saat di mana kamu jatuh cinta padanya. Ahh, itu foreshadowing juga.
Kalau
kamu pikir si orang lain bicara—Itu artinya …
Hiyuki
membiarkan bibirnya yang mempunyai tahi lalat di sampingnya terkatup, mengerjapkan
bulu matanya, lalu berjalan ke pagar. Mata Hiyuki, rambut panjangnya, wajah cantik
dan bibir tipisnya semua tampak transparan dan berkilau.
Ini
pasti—
Hiyuki
menggenggam pagar dengan jari-jemari pucatnya.
Ao
menggapai pagar dan menyentuh jari-jemari dingin Hiyuki.
Matanya
yang sedalam lautan menatap Ao sangat dekat.
Seperti
Subaru menggenggam tangan Cyan erat di saat terakhirnya sambil menatap Cyan dengan
saksama.
Begitu
dia melihat bibir yang memiliki tahi lalat di sampingnya itu bergerak, Ao
berkata seperti yang Cyan lakukan, mengutarakan perasaannya yang meluap kepada
orang di hadapannya.
“Kazetani-kun,
aku mencintaimu.”
“Hinomiya-san,
aku mencintaimu.”
Keduanya
saling bergandengan tangan, dan Subaru perlahan menghilang di hadapan Cyan yang
berbicara sambil berlinang air mata, dengan senyuman bahagia di bibirnya.
Saat
sensasi di tangannya perlahan menghilang, Cyan berseru berulang-ulang: Aku
sangat mencintaimu, aku selalu mencintaimu! Sambil dia mendengarkan, Subaru
kembali ke dunia asalnya.
Itulah
akhir cerita yang dibuat Ao dan Hiyuki.
Namun
saat ini, tangan Ao terulur melewati pagar dan menggenggam tangan Hiyuki.
Merasakan
tangan Hiyuki yang lembut dan hangat, Ao melihat Hiyuki membuka mulutnya yang
memiliki tahi lalat di sampingnya dan matanya yang dibasahi air mata—Matanya
yang biru tua berkilau di bawah cahaya rembulan dan dia tersenyum.
Malam
yang redup tampak seperti dunia di bawah air, ombak yang didorong angina menyampaikan
perasaan mereka kepada pihak lain, saat mereka saling memandang.
Seperti
sekuel cerita Subaru dan Cyan—
Walaupun
mereka berpisah dengan singkat, keduanya pasti bisa—
Melewati
pagar, wajah Ao dan Hiyuki saling mendekat. Ujung jemari Hiyuki yang sedingin es
menghangat karena panas dari Ao.
Dan
kemudian—

Comments
Post a Comment