Ketika kualihkan pandanganku menuju area dekat altar, aku melihat bahwa ibu Tsukimori tiba-tiba mulai menangis.
Sepertinya, ratapannya merupakan alasan mengapa para wanita di sekelilingku mulai ikut terisak-isak. Ngomong-ngomong, Usami masih menangis juga.
Namun, masih saja tidak ada air mata di mata Tsukimori.
Tatapannya begitu menawan, dan terpaku di altar.
Karena pakaian berkabung hitam semakin membuat kulitnya yang putih terlihat cerah, seolah-olah tubuh Tsukimori kelihatan bercahaya. Tsukimori yang terdiam sangatlah mencolok, lebih dari orang yang meninggal itu sendiri, lebih dari altar yang penuh hiasan, lebih dari ibu yang termehek-mehek, atau lebih dari orang lain yang berada di dalam aula.
Bagiku, Tsukimori tampak seperti bulan di malam hari.
Bagiku, Tsukimori tampak seperti bulan di malam hari.
Kecantikan yang begitu mempesona.
Sudah waktunya untuk keberangkatan peti mati. Klakson mobil jenazah terdengar keras dan sederhana, lantas mobil itu pun berangkat di depan mata orang-orang berbaju hitam.

Comments
Post a Comment